Rabu, 21 Mei 2014

ASESMEN PROSES DAN ASESMEN HASIL



ASESMEN PROSES DAN ASESMEN HASIL
Asesmen dapat dibedakan menjadi dua yaitu asesmen hasil dan asesmen proses. Alat ukur yang digunakan dalam asesmen hasil umumnya adalah tes, sedangkan alat ukur untuk asesmen proses adalah observasi, wawancara, dan/atau angket. Data yang diperoleh melaui tes adalah data yang berupa angka atau data numerik (numeric), namun data yang diperoleh melalui obervasi, wawancara, dan angket tergantung bentuk lembar/alat observasi, wawancara, dan angket yang digunakan. Alat ukur yang digunakan dalam asesmen hasil umumnya adalah tes, sedangkan alat ukur untuk asesmen proses adalah observasi, wawancara, dan/atau angket. Data yang diperoleh melaui tes adalah data yang berupa angka atau data numerik (numeric), namun data yang diperoleh melalui obervasi, wawancara, dan angket tergantung bentuk lembar/alat observasi, wawancara, dan angket yang digunakan. Sebagai contoh, observasi terstruktur menghasilkan data numerik, sedangkan wawancara tidak menghasilkan data numerik.
Keberhasilan pembelajaran merupakan suatu kondisi yang diperoleh dari suatu upaya pendidik dalam berusaha membelajarkan peserta didik, sedangkan peserta didik berupaya menguasai kompetensi yang telah dibelajarkan. Kondisi ini dapat diketahui dari asesmen
terhadap upaya pembelajaran yang sedang atau telah dilakukan pendidik. Dari suatu asesmen pembelajaran akan diperoleh informasi yang sangat berharga, sebagai balikan (feedback) atau backwash dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan pendidik. Ada dua macam asesmen yang dilakukan dalam pembelajaran:
1.      Asesmen formatif
Asesmen formatif adalah asesmen yang dirancang untuk membantu proses belajar dengan menyediakan/memberikan umpan balik kepada siswa, yang dapat digunakan untuk mengetahui gambaran pembelajaran dan untuk meningkatkan pembelajaran selanjutnya.
Asesmen formatif memberi informasi yang dibutuhkan pendidik dan peserta didik ketika unit pelajarannya diajarkan: bagi peserta didik, bagaimana cara mencapai tujuannya, dan bagi pendidik, keputusan pembelajaran apa yang harus dibuat. Asesmen formatif dapat membantu pendidik dalam menjawab kedua masalah tersebut, kemudian pendidik dapat mengambil keputusan-keputusan “kurang penting”, dan keputusan-keputusan yang salah segera kelihatan dan dapat dikoreksi. Di sini, pendidik dapat mengambil keputusan dengan melihat ekspresi wajah, ketekunan, dan jawaban-jawaban peserta didik atas pertanyaan-pertanyaan lisan, serta respon mereka terhadap berbagai tugas tertulis pendek. Setiap pendidik dalam sketsa-sketsa di atas melakukan asesmen formatif dan mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan pembelajaran. Asesmen formatif dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Wujudnya berupa pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik dan tidak dijadikan dasar penentuan kenaikan kelas.
2.      Asesmen sumatif
Asesmen sumatif adalah asesmen yang digunakan untuk kemajuan dan atau tujuan eksternal yang diberikan di akhir pembelajaran dan dirancang untuk memberikan keputusan terhadap keseluruhan proses belajar siswa.
Asesmen sumatif memberi data yang pendidik butuhkan untuk menentukan dan menjustifikasi nilai-nilai peserta didik. Oleh karena keputusan-keputusan ini “lebih penting” bagi individu peserta didik, datanya harus memiliki kualitas teknis yang tinggi. Selain itu, lantaran keputusan perihal nilai harus bukan hanya dibuat,  melainkan juga dijustifikasi, pendidik boleh jadi merasa lebih enak dengan menggunakan tes tradisional pengetahuan faktual dalam asesmen sumatif. Pertanyaan-pertanyaan dalam tes ini mempunyai jawaban “benar” dan “salah” yang sulit dibantah. Asesmen sumatif dilaksanakan di akhir pembelajaran dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik.
Dalam konteks belajar asesmen sumatif dan normatif disebut dengan asesmen belajar. Secara umum dikenal konsep penilaian formatif dan sumatif serta penilaian internal dan penilaian eksternal. Penilaian Formatif dan Sumatif Penilaian formatif dilaksanakan selama program berlangsung untuk memberikan informasi berguna kepada pimpinan program untuk perbaikan. Sedangkan penilaian sumatif berlangsung pada akhir program untuk memberikan informasi yang potensial tentang manfaat program.
Berdasarkan hasil tes formatif maka perbaikan dilakukan sebelum pembelajaran dapat dilanjutkan. Pada saat pembelajaran berakhir maka dilakukan tes sumatif. Kedua penilaian ini penting karena keputusan diperlukan selama proses, tingkat perkembangan kegiatan, untuk memperbaiki dan memperkuat setelah stabil, untuk menilai manfaat, dan menentukan masa depan kegiatan. Proses perkembangan tanpa penilaian formatif tidak akan lengkap dan tidak efektif. Namun ada dua faktor yang mempengaruhi kegunaan penilaian formatif, yaitu kontrol dan waktu.
Bila saran dan perbaikan akan dijalankan supaya dapat berguna, maka penilaian formatif diperlukan sebagai kontrol. Informasi yang diberikan kepada administrator terlambat akan sia-sia. Jadi informasi harus diberikan tepat pada waktunya. Penilaian Internal dan Eksternal Sesuai dengan namanya maka penilaian internal dilakukan oleh penilai dari dalam dan penialain eksternal dilakukan oleh penilai dari luar program. Penilai internal tentu lebih banyak mengetahui tentang programnya daripada penilai eksternal, tetapi sulit untuk dapat objektif 100%. Penilai internal mungkin lebih mengetahui hal-hal secara rinci, namun kurang mengetahui hal-hal yang penting dan kritis.


DAFTAR PUSTAKA

Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. (2009). Psikologi Pendidikan. Semarang : Unnes Press

McAlpine, Mhairi . (2002). Principles of Assessment. CAA Centre
Goods, Merrilyn. Stillman, Gloria. Colleen Vale. (2007). Teaching Secondary School Mathematics. Australia: A & U

Tidak ada komentar:

Posting Komentar