Selasa, 01 Juli 2014

How to teach math as a social activitiy

Video berikut menunjukkanbahwa mengajar matematika sebagai aktivitas sosial lebih efektif daripada sekedar mengajar matematika dan melakukan pemecahan masalah. Video tersebut bercerita tentang bagaimana di awal tahun siswa membuat semacam kontrak/perjanjian kerja (working agreement). Working agreement adalah daftar aturan dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas, misalnya aturan bahwa semua siswa tidak boleh berbicara ketika ada temannya yang sedang berbicara atau mengajukan pendapat. Cara seperti ini sangat efektif dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena secara tidak langsung siswa dituntut untuk mematuhi perjanjian (working agreement) yang telah mereka buat sendiri.
Pada bagian berikutnya video bercerita tentang bagaimana memecahkan masalah matematika dengan fishbowl activity. Para siswa dapat bekerja berpasangan atau sendirian untuk memecahkan masalah. Pilihan untuk bekerja berpasangan meningkatkan interaksi sosial serta belajar lebih banyak tentang matematika dari sudut pandang yang berbeda. Guru memberikan langkah-langkah agar siswa dapat mengikuti kegiatan fishbowl dengan baik. Setelah siswa bekerja sama untuk memecahkan masalah, mereka diminta untuk mengamati salah satu tim menjelaskan bagaimana mereka menemukan jawabannya. Hal ini sangat membantu siswa menghargai dan mendengarkan satu sama lain juga memberikan manfaat tambahan belajar materi dengan cara yang menyenangkan. Ketika semua orang memahami pelajaran yang dipelajari guru mulai pada tahapan refleksi. Mereka membahas sisi positif dan negatif dari kegiatan tersebut. Hal ini membantu  dan membuat siswa memahami bagaimana setiap individu mungkin mendapatkan jawaban dengan cara yang berbeda sesuai dengan pemahaman masing-masing. Semua kegiatan ini menggambarkan bagaimana meningkatkan aktivitas sosial dan melakukan pembelajaran matematika pada saat bersamaan. Sangat menarik untuk dicoba...!!

Sumber:

 
http://www.edutopia.org/math-social-activity-cooperative-learning-video

Minggu, 01 Juni 2014

Penggunaan wingeom dalam pembelajaran matematika

Dalam pelaksanan kegiatan pembelajaran, ditinjau dari fasilitas yang ada,
ada dua pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu pendekatan kelas dan pendekatan
laboratorium. Pendekatan kelas digunakan jika tidak cukup tersedianya komputer
bagi siswa. Pendekatan ini cukup memerlukan satu komputer dengan dukungan
viewer (proyektor untuk komputer). Guru dapat membuat presentasi materi
pembelajaran yang menarik dan menantang, yang memperhatikan aspek visual ,
animasi yang menarik, sekuensial, dan pertanyaan-pertanyaan bagi siswa yang
mendukung pemahaman konsep.

Jika tersedia fasilitas komputer yang mencukupi (idealnya satu komputer
untuk satu siswa), maka dapat dilakukan pendekatan laboratorium. Dalam
pendekatan ini Guru menyusun lembar kerja dan lembar kegiatan bagi siswa.
Lembar kegiatan siswa berisi

Kamis, 22 Mei 2014

SISTEM PENDIDIKAN DI NEGARA FINLANDIA



SISTEM PENDIDIKAN DI NEGARA FINLANDIA


Negara yang terletak di eropa utara ini tercatat sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. hal ini dikemukakan oleh PISA ( program for  internatioanal student assessment ) dimana anak-anak finlandia berusia 15 tahun memiliki prestasi terbaik dalam bidang sains , matematika dan kemampuan membaca usia dini.
Revolusi sistem pendidikan Finlandia dimulai sejak tahun 1968, ketika pemerintah memutuskan untuk menghapus sistem pendidikan berjenjang (parallel school system/ PSS) dan menggantikannya dengan sistem pendidikan wajib dasar nasional 9 tahun. PSS merupakan sistem pendidikan yang mengutamakan pendidikan berjenjang bagi seluruh siswa. Sistem ini dinilai tidak efektif karena pada kenyataannya terdapat perbedaan kemampuan murid dalam menerima dan mencerna ilmu yang diberikan. Oleh karena itu, pemerintah Finlandia beralih menggunakan sistem pendidikan wajib dasar nasional 9 tahun, di mana seluruh anak pada usia 7-15 tahun menerima materi dan kualitas pendidikan yang sama dan seragam. Siswa tidak lagi mengejar angka dan peringkat selama menjalani pendidikan wajib dasar 9 tahun, namun mengejar pemahaman dan penerapan ilmu yang diberikan sesuai dengan kurikulum pendidikan dasar nasional. Pendidikan dasar difokuskan pada upaya pembentukan karakter dan kapasitas dari setiap murid.

Vektor


VEKTOR*)


Dalam materi ini akan dibahas mengenai vektor dalam ruang dimensi dua (R2); vektor dalam ruang dimensi tiga (R3); penjumlahan, pengurangan, dan perkalian scalar dengan vektor; hasil kali titik (dot product) dua vektor; proyeksi ortogonal suatu vektor; dan hasil kali silang (cross product) dua vektor.
Untuk lebih jelasnya silahkan download materi melalui link download materi vektor



Rabu, 21 Mei 2014

BERPIKIR TINGKAT TINGGI





Berpikir Tingkat Tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan. Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi meliputi evaluasi, analisis, dan mencipta.
Thomas dan Thorne (2005) menyatakan bahwa “Higher Order Thinking is thinking on higher level that memorizing facts or telling something back to sameone exactly the way the it was told to you.

ASESMEN PROSES DAN ASESMEN HASIL



ASESMEN PROSES DAN ASESMEN HASIL
Asesmen dapat dibedakan menjadi dua yaitu asesmen hasil dan asesmen proses. Alat ukur yang digunakan dalam asesmen hasil umumnya adalah tes, sedangkan alat ukur untuk asesmen proses adalah observasi, wawancara, dan/atau angket. Data yang diperoleh melaui tes adalah data yang berupa angka atau data numerik (numeric), namun data yang diperoleh melalui obervasi, wawancara, dan angket tergantung bentuk lembar/alat observasi, wawancara, dan angket yang digunakan. Alat ukur yang digunakan dalam asesmen hasil umumnya adalah tes, sedangkan alat ukur untuk asesmen proses adalah observasi, wawancara, dan/atau angket. Data yang diperoleh melaui tes adalah data yang berupa angka atau data numerik (numeric), namun data yang diperoleh melalui obervasi, wawancara, dan angket tergantung bentuk lembar/alat observasi, wawancara, dan angket yang digunakan. Sebagai contoh, observasi terstruktur menghasilkan data numerik, sedangkan wawancara tidak menghasilkan data numerik.
Keberhasilan pembelajaran merupakan suatu kondisi yang diperoleh dari suatu upaya pendidik dalam berusaha membelajarkan peserta didik, sedangkan peserta didik berupaya menguasai kompetensi yang telah dibelajarkan. Kondisi ini dapat diketahui dari asesmen